Senin, 04 November 2019
Minggu, 03 November 2019
TANDA-TANDA AJAIB KELAHIRAN NABI MUHAMMAD SAW
TANDA-TANDA AJAIB KELAHIRAN
NABI MUHAMMAD SAW
Jelang kelahiran Nabi Muhammad SAW di Mekkah. Kejadian langka
tersebut dianggap tanda-tanda kemuliaan yang diberikan Allah SWT. Beberapa kejadian luar biasa jelang kelahiran Rasulullah tersebut,
dianggap tanda menyambut manusia mulia, penutup para nabi.
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ
يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS Al-Ahzab 21).
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS Al-Ahzab 21).
Banyak pakar dan sejarawan Islam menjelaskan beberapa
peristiwa luar biasa mengiringi kelahiran beliau. Di antaranya adalah ;
1)
Padamnya api sesembahan
kaum Majusi atau zoroaster, di kuil pemujaan di Persia (kini Iran). "Api Majusi yang telah menyala hampir seribu tahun dikisahkan tak
pernah padam, hingga jelang kelahiran Nabi Muhammad SAW. Kaum Majusi berusaha
menghidupkan kembali api tersebut namun tetap tidak menyala," kata Mahsun.
2)
Kehancuran pasukan gajah.
Pasukan yang dipimpinan Raja Abrahah ini ingin menghancurkan Ka'bah. Abrahah
iri dengan kemajuan ekonomi Arabia utara, dengan adanya bangunan Ka'bah. Tempat
ibadah ini selalu ramai dikunjungi para peziarah, dan menyaingi kepopuleran
kuil yang ia bangun di wilayah Abysinia, (kini Yaman).
Sejarawan Jerman yang mengkaji sejarah bangsa Arab, Yahudi
dan Kristen di Semenanjung Arab, Walter W. Muller dalam tulisannya berjudul, 'Outline
of the History of Ancient Southern Arabia' mengungkapkan, serangan Abrahah
ke wilayah Arabia utara ditandai dengan berakhirnya masa kepemimpinan Abrahah.
Raja Abrahah meluncurkan serangan militer besar-besaran ke wilayah utara
sebagai bentuk ekspansi, menggunakan gajah. Namun ekspansi Raja Abrahah, harus terhenti dan gagal di wilayah Mekkah.
Ia meneliti sebuah batu prasasti terbaru dari era Himyarite sekitar 554 masehi,
yang menandai akhir dari zaman Arabia Selatan kuno terdokumentasi menandai
kemunduran kerajaan Sabeo-Himyarite.
Setelah kekalahan pasukan Abrahah di Makkah, papar Muller,
antara 570-575 masehi kelompok Persia di Yaman bekerja sama dengan kerajaan
Sasanid. Kerajaan Persia itu akhirnya berhasil mengambil alih wilayah
Abyssinian di Yaman, dan berakhirlah kerajaan Abrahah di Arabia Selatan.
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَٰبِ ٱلْفِيلِ. أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِى تَضْلِيلٍ. وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ. تَرْمِيهِم بِحِجَارَةٍ مِّن سِجِّيلٍ. فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَّأْكُولٍ
"(1)
Apakah kamu tidak memperhatikan hal yang telah diperbuat Tuhanmu terhadap
rombongan bergajah? (2) Bukankah Dia telah menyebabkan tipu daya orang-orang itu
menjadi sia-sia? (3)Allah mengirimkan kepada mereka burung-burung yang
berbondong-bondong. (4) Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah
yang terbakar. (5) Lalu Allah jadikan pasukan-pasukan itu menyerupai daun-daun
jerami dimakan (ulat)." (QS. Al-Fiil, 1-5)
ألم
تر» استفهام تعجب، أي اعجب «كيف فعل ربك بأصحاب الفيل» هو محمود وأصحابه أبرهة ملك
اليمن وجيشه، بنى بصنعاء كنيسة ليصرف إليها الحجاج عن مكة فأحدث رجل من كنانة فيها
ولطخ قبلتها بالعذرة احتقارا بها، فحلف أبره ليهدمنَّ الكعبة، فجاء مكة بجيشه على
أفيال اليمن مقدمها محمود، فحين توجهوا لهدم الكعبة أرسل الله عليهم ما قصَّه في
قوله:
(Apakah kamu tidak memperhatikan) Istifham atau
kata tanya di sini mengandung makna takjub; artinya sepatutnya kamu merasa
takjub (bagaimana Rabbmu telah bertindak terhadap tentara bergajah) orang yang
mempunyai gajah itu bernama Mahmud yang disertai oleh teman-temannya, yaitu
raja negeri Yaman yang bernama Abrahah berikut tentaranya. Dia telah membangun
sebuah gereja di Shan'a dengan tujuan supaya orang-orang berpaling dari
menziarahi Mekah dan tidak menziarahinya lagi. Pada suatu hari ada seseorang
lelaki dari Kinanah telah membuat kejadian di gereja tersebut, ia melumuri
bagian gereja yang dijadikan kiblat dengan kotoran unta dengan maksud
menghinanya. Abrahah bersumpah untuk menghancurkan Kakbah. Lalu ia datang ke
Mekah bersama tentaranya, beserta gajah-gajah milik Mahmud tadi. Ketika mereka
mulai bergerak hendak menghancurkan Kakbah, Allah mengirimkan kepada mereka apa
yang dikisahkan-Nya melalui firman selanjutnya yaitu: (Tafsir Al-Jalalain,
Al-Fil 105:1)
ألم يجعل» أي جعل «كيدهم» في هدم الكعبة «في تضليل» خسارة وهلاك.
(Bukankah Dia menjadikan) telah
menjadikan (tipu daya mereka itu) dalam rangka menghancurkan Kakbah (sia-sia)
maksudnya hanya menjerumuskan mereka ke dalam kerugian dan kebinasaan. (Tafsir Al-Jalalain, Al-Fil 105:2)
«وأرسل عليهم طيراً أبابيل» جماعات جماعات، قيل لا واحد له
كأساطير، وقيل واحده: أبول أو بال أو أبيل كعجول ومفتاح وسكين.
(Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung
yang berbondong-bondong) atau yang bergelombang secara berturut-turut. Menurut
suatu pendapat bahwa lafal Abaabiil ini tidak ada bentuk Mufradnya, sama halnya
dengan lafal Asaathiir. Menurut pendapat yang lain bahwa bentuk tunggalnya
adalah Abuul atau Ibaal atau Ibbiil yang wazannya sama dengan 'Ajuul, Miftaah
dan Sikkiin. (Tafsir Al-Jalalain, Al-Fil 105:3)
«ترميهم بحجارة من سجيل»
طين مطبوخ.
(Yang melempar mereka dengan batu berasal
dari tanah yang terbakar) yakni tanah liat yang dibakar. (Tafsir Al-Jalalain, Al-Fil 105:4)
«فجعلهم
كعصف مأكول» كورق زرع أكلته الدواب وداسته وأفنته، أي أهلكهم الله تعالى كل واحد
بحجره المكتوب عليه أسمه، وهو أكبر من العدسة وأصغر من الحمصة يغرق البيضة والرجل
والفيل ويصل الأرض، وكان هذا عام مولد النبي صلى الله عليه وسلم.
(Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun
yang dimakan) atau bagaikan daun tanaman yang dimakan oleh ternak, kemudian
diinjak-injak dan dicabik-cabiknya. Allah telah membinasakan setiap orang dari
mereka dengan batu yang padanya telah tertulis nama orang yang dikenainya.
Setiap batu bentuknya lebih besar sedikit daripada biji 'adasah dan agak kecil
daripada biji kacang Humsh; batu itu dapat menembus topi baja tentara yang
berjalan kaki dan gajah yang dibawanya, kemudian batu itu jatuh ke tanah
setelah menembus badan mereka. Hal tersebut terjadi pada tahun kelahiran Nabi
saw. (Tafsir Al-Jalalain, Al-Fil 105:5)
3)
jatuh dan hancurnya
berhala-berhala di Mekkah. Dalam kitab Arahiq Al Makhtum karangan Syeikh Shafiyyurrahman
Al Mubarakfuri, disebutkan kelahiran Nabi Muhammad bertepatan dengan runtuhnya
14 balkon Istana Kisra Anusyirwan (Raja Persia).
4)
Kemudian runtuhnya
beberapa gereja di sekitar Buhaira.
5)
Mengeringnya Danau Sawa
(wilayah Irak), yang saat itu dijadikan tempat pemujaan. Dan berbagai tanda
kesamaan dengan lahirnya para nabi lainnya, seperti munculnya bintang besar dan
bercahaya di malam kelahiran Nabi Muhammad SAW.
6)
Aminah Tidak Merasa Letih
Selama mengandung Muhammad SAW, Aminah sang ibunda
tidak merasa letih akibat kandungannya. Padahal setiap wanita yang hamil selalu
merasa letih karena kandungannya. Imam Ibnu Katsir meriwayatkan dalam kitabnya,
Qishashul Anbiyya, bahwa ketika Aminah mengandung Rasulullah SAW, sama sekali
ia tidak merasa kesulitan maupun kepayahan sebagaimana wanita umumnya yang
mengandung. Ia juga menyatakan bahwa selama mengandung Rasulullah SAW, dalam
mimpinya ia senantiasa didatangi para Nabi-nabi terdahulu, dari sejak bulan
pertama, yaitu bulan Rajab hingga kelahirannya di bulan Rabi’ul Awwal.
Bulan
ke-1 didatangi oleh Nabi Adam (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang
dikandungnya itu akan menjadi pemimpin agama yang besar.
Bulan ke-2 didatangi Nabi Idris (as) yang berkata
kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan mendapat derajat paling tinggi
di sisi Allah.
Bulan ke-3 didatangi Nabi Nuh (as) yang berkata
kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan memperoleh kemenangan dunia dan
akhirat.
Bulan ke-4 didatangi Nabi Ibrahim (as) yang berkata
kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan memperoleh pangkat dan derajat
yang besar di sisi Allah.
Bulan ke-5 didatangi Nabi Ismail (as) yang berkata
kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan memiliki kehebatan dan mu’jizat
yang besar.
Bulan ke-6 didatangi Nabi Musa (as) yang berkata
kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan memperoleh derajat yang besar
di sisi Allah.
Bulan ke-7 didatangi Nabi Daud (as) yang berkata
kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan memiliki Syafaat dan Telaga
Kautsar.
Bulan ke-8 didatangi Nabi Sulaiman (as) yang berkata
kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan menjadi penutup para Nabi dan
Rasul.
Bulan ke-9 didatangi Nabi Isa (as) yang berkata
kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan membawa Al-Qur’an yang
diridhai.
Semua Nabi-nabi yang hadir di mimpi Aminah itu sama-sama berpesan
kepadanya bahwa jika telah lahir, namai anak itu dengan nama Muhammad yang
artinya Terpuji, karena anak itu akan menjadi makhluk yang paling terpuji di
dunia dan akhirat.
Firasat mengenai penamaan Muhammad itu pun terbersit di hati
mertuanya, Abdul Muthalib, sehingga ketika Rasulullah SAW lahir, Abdul Muthalib
memberinya nama Muhammad. Ketika masyarakat Mekkah bertanya mengapa ia dinamai
Muhammad, bukan nama para leluhur-leluhurnya, maka Abdul Muthalib menjawab:
“Aku berharap ia akan menjadi orang yang terpuji di dunia dan akhirat.
Jumat, 25 Oktober 2019
ETIKA DAKWAH
ETIKA DAKWAH
Oleh : Dr.M.Ridwan Jalil, M.Pd.I
Ketentuan-ketentuan
umum tentang dakwah adalah sebagai berikut:
1.
Dakwah harus ditujukan untuk mengajak orang masuk ke dalam agama
Islam, dan menegakkan amar makruf nahi ‘anil munkar. Allah Swt berfirman, yang
artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada
kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah
orang-orang yang beruntung”. [QS Ali Imr n (3): 104]
2.
Dakwah harus dilengkapi dengan etika dakwah. Etika dakwah telah
dijelaskan Allah Swt dalam QS AnNahl 16): 125, yakni: “Serulah (manusia) kepada
jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan
cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa
yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang
mendapat petunjuk”. [QS An-Nahl (16): 125] Dakwah “bil hikmah” adalah dakwah
dengan memberikan hujjah (argumentasi) yang kuat. Dakwah “bil mau’i ah
al-hasanah” adalah dakwah dengan cara memberi contoh dan pelajaran-pelajaran
baik, sehingga memberi pengaruh kepada perilaku audiens. Dakwah “wa ja dilhum
bil-lati hiya ah san” adalah berdiskusi dengan cara yang baik; yaitu dengan
penjelasan dan argumentasi yang jelas dan kuat.
3.
Dakwah tidak boleh dibatasi hanya untuk memperbaiki
individu-individu masyarakat saja. Tetapi, dakwah harus ditujukan untuk
memperbaiki masyarakat dan negara. Untuk itu, seorang da’i tidak boleh hanya
menyibukkan diri pada seruan-seruan yang bersifat individual dan
nasehat-nasehat belaka. Akan tetapi, ia harus berjuang bersama-sama umat untuk
memperbaiki keadaan masyarakat dan negaranya agar sejalan dengan ‘aqidah dan
syariat Islam.
4.
Dakwah yang dilakukan secara berkelompok (berjama’ah) harus
sejalan dengan manhaj dakwah Rasulullah Saw. Sebagaimana dalam urusan-urusan
lainnya, seperti urusan jual beli, sewa menyewa, shalat, wudu, haji dan jihad
maka dalam urusan dakwah berjamaah pun sudah barang tentu dicontohkan oleh
Rasulullah. Rasulullah adalah sebaik-baik tauladan dalam berdakwah.
Kamis, 17 Oktober 2019
Sabtu, 28 September 2019
POSISI KEPALA JENAZAH SAAT SHALAT JENAZAH
وفي البجيرمي ما نصه ويوضع رأس الذكر لجهة يسار الإمام ويكون غالبه لجهة يمينه خلافا لما عليه عمل الناس الآن ويكون رأس الأنثى والخنثى لجهة يمينه على عادة الناس الآن ع ش والحاصل أنه يجعل معظم الميت عن يمين المصلي فحينئذ يكون رأس الذكر جهة يسار المصلي والأنثى بالعكس إذا لم تكن عند القبر الشريف أما إذا كانت هناك فالأفضل جعل رأسها على اليسار كرأس الذكر ليكون رأسها جهة القبر الشريف سلوكا للأدب كما قاله بعض المحققين ا هـ (تحفة المحتاج : 3/156 ط: دار إحياء التراث العربي)
Dalam al-Bujairami disebutkan sebagai berikut: Kepala laki-laki diletakkan di arah kiri imam dan sebagaian besar badan mayit berada di arah kanan imam. Hal ini berbeda dengan apa yang dilakukan masyarakat saat ini. Dan kepala perempuan dan huntsa di arah kanan imam menurut kebiasaan manusia. Kesimpulannya, sebagian besar badan mayit diposisikan di arah kanan mushalli. Dengan demikian, kepala lelaki berada di arah kiri. Untuk perempuan sebaliknya, jika tidak berada di maqam Rasul. Jika di sana, maka yang lebih afdol adalah meletakkan kepala perempuan di sebelah kiri imam seperti kepala mayit lelaki, agar lurus dengan arah maqam rasul sebagai bentuk adab. Hal ini sebagaimana yang yang dikatakan ulama muhaqqiqin. (Tuhfatul Muhtaj: 3/156 cet. Dar Ihya’ Turats al-Arabi)
Jumat, 27 September 2019
SHOLAT JENAZAH MATI BUNUH DIRI
JENAZAH ORANG YANG MATI
BUNUH DIRI
1.
Disholatkan atau tidak
?.....
2.
Bagaimana menurut
Imam Mazhab?
|
Imam
Mazhab
|
disholatkan
|
Tidak disholatkan
|
Cukup di
mandikan/dikafan dan dikubur
|
|
MALIKIYAH
|
ü
|
|
ü
|
|
HANAFIYAH
|
ü
|
|
ü
|
|
SYAFIIYAH
|
ü
|
|
ü
|
|
HAMBALIYAH
|
ü
|
|
ü
|
JENAZAH BAYI KEGUGURAN TIDAK ADA SUARA TANGIS DAN GERAK.
1.
Disholatkan atau tidak?...
2.
Bagaimana menurut Imam Mazahab
|
Imam
Mazhab
|
disholatkan
|
Tidak disholatkan
|
Cukup di
mandikan/dikafan dan dikubur
|
|
MALIKIYAH
|
|
ü
|
ü
|
|
HANAFIYAH
|
|
ü
|
ü
|
|
SYAFIIYAH
|
|
ü
|
ü
|
|
HAMBALIYAH
|
|
ü
|
ü
|
Ø Sumber Kitab MAZAHIBUL ARBA’A
Jambi, 28 September 2019
PENASEHAT MPI
DR.M.RIDWAN JALIL, MPd.I
Minggu, 04 Agustus 2019
TIDAK MAKAN SEBELUM SHOLAT IDUL ADHA ITU IBADAHNYA ORANG YANG BERQURBAN.
TIDAK MAKAN SEBELUM SHOLAT IDUL ADHA ITU
IBADAHNYA ORANG
YANG BERQURBAN.
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه
وسلم- لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ وَلاَ يَأْكُلُ يَوْمَ
الأَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلَ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ
“Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat ‘ied pada hari Idul Fithri
dan beliau makan terlebih dahulu. Sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak
makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari shalat ‘ied baru beliau menyantap
hasil qurbannya.” (HR. Ahmad 5: 352.Syaikh Syu’aib Al Arnauth
mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,
قال
أحمد: والأضحى لا يأكل فيه حتى يرجع إذا كان له ذبح، لأن النبي صلى الله عليه وسلم
أكل من ذبيحته، وإذا لم يكن له ذبح لم يبال أن يأكل. اهـ.
“Imam Ahmad berkata: “Saat Idul Adha dianjurkan
tidak makan hingga kembali dan memakan hasil sembelihan qurban. Karena
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam makan dari hasil sembelihan
qurbannya. Jika seseorang tidak memiliki qurban (tidak berqurban), maka tidak
masalah jika ia makan terlebih dahulu sebelum shalat ‘ied.” (Al Mughni, 2: 228)
Ibnu Hazm rahimahullah berkata,
وإن أكل يوم
الأضحى قبل غدوه إلى المصلى فلا بأس، وإن لم يأكل حتى يأكل من أضحيته فحسن، ولا
يحل صيامهما أصلا
“Jika
seseorang makan pada hari Idul Adha sebelum berangkat shalat ‘ied di tanah
lapang (musholla), maka tidak mengapa. Jika ia tidak makan sampai ia makan dari
hasil sembelihan qurbannya, maka itu lebih baik. Tidak boleh berpuasa
pada hari ‘ied (Idul Fithri dan Idul Adha) sama sekali.” (Al
Muhalla, 5: 89)
Dan kita lihat dari penjelasan Imam Ahmad
yang dinukil dari Ibnu Qudamah di atas bahwa sunnah tidak makan sebelum shalat
Idul Adha hanya berlaku untuk orang yang memiliki hewan qurban sehingga
ia bisa makan dari hasil sembelihannya nanti. Sedangkan jika tidak memiliki
hewan qurban, maka tidak berlaku. Wallahu a’lam.
Langganan:
Postingan (Atom)
MAKNA LEBARAN DITINJAU DARI ASPEK PENDIDIKAN
MAKNA LEBARAN DITINJAU DARI ASPEK PENDIDIKAN Oleh. Dr.H.M.Ridwan Jalil.M.Pd.I Setelah berpuasa satu bulan lamanya, Berzakat fitrah menurut ...
-
Hadirin Yang Berbahagia …. Masa muda merupakan masa yang penuh dengan harapan, penuh dengan cita-cita dan penuh dengan romantika...
-
KONSEP ISLAM TENTANG TUHAN A.Pengertian Tuhan. Dalam konsep Islam , Tuhan disebut Allah dan diyakini sebagai Zat Maha Tinggi Yan...
-
Konsep Islam tentang Wahyu dan Kenabian A. Pengertian Se'cara etimologis Nabi berasal dari kata na-ba artinya ditinggikan, atau...




