Senin, 27 Mei 2019

KHUTBAH IDUL FITRI 2019 'KEJUJURAN" OLEH DR.RIDWAN JALIL, M.Pd.I






 
“KEJUJURAN”
Khutbah Idul Fitri tahun 1440 H/2019
Oleh: Ustz. DR.RIDWAN JALIL, M.Pd,I

الله ُ اَكْبَرُ  9x
 الله ُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَّاَصِيْلاً لاَاِلهَ اِلاَّ الله وَاللهُ اَكْبَرُ   اللهُ اَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ.
الحمدَ لله الذي جعل هذا اليوم عيدا للمؤمنين  وختم به شهر الصيام    أشْهَدُ أَنْ لاَ إلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْك لَهُ  وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ  لاَ نَبِيَ بَعْدَهُ، اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى هَذَا النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ وَعَلَى الِهِ وَصَحْبِهِ وَأَتْبَاعِهِ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الله ، أُوصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَا الله فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.  وقال الله تعالى  قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى . وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى

Allahuakbar 3x walillahilham           
Saudara-saudara kaum muslimin                                                                                         Jama’ah sholat Idul Fitri Rahimakumullah

Sejak tadi malam alunan gema takbir, berkumandang  bersahut-sahutan, seiring dengan tabuhan beduk yang bertalu-talu menandakan datangnya hari kemenangan yakni ( Hari Raya Idul Fitri 1440 H ). Setelah satu bulan  kita melaksanakan ibadah puasa dan atas karunia-Nya pada hari ini Al-hamdulillah kita dapat  merayakan hari kemenangan ini tanpa halangan suatu apapun.
Hari ini kita semua  merasakan kegembiraan, kebahagian bercampur kesedihan; kenapa bahagia?..karena kita telah kembali kepada fitrah. Kenapa gembira?..karena kita telah berhasil memenangkan perjuangan melawan hawanafsu selama bulan Ramdhan.  kenapa bersedih?..karena berpisah dengan bulan Ramdhan, yang telah banyak memberikan pesan dan kenangan manis kepada kita semua.

Allahuakbar 3x Walillahilham
Kaum Musliman yang berbahagia.
Seiring dengan berlalunya Bulan suci Ramadhan, banyak pelajaran  yang dapat kita petik dari amalia Ramadhan kita, salah satunya adalah sifat jujur. Selama satu bulan kita di tempa untuk selalu berkata jujur dan tidak boleh berdusta sebab jika kita berdusta tentu akan menghilangkan pahala puasa kita.
Berbicara tentang kejujuran Nabi bersabda;

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ 
Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. (HR.MUSLIM)
Hadits ini mempertegas bahwa kejujuran itu sangatlah istimewa sehingga dapat membawa orang jujur ke tempat yang sangat istimewa pula yaitu surga. Terkait dengan kejujuran yang saat ini sedang di pertaruhkan dengan kecurangan di Negri ini, mari sama-sama kita bercermin dari  kisah Umar Bin Khatab dengan seorang gadis penjual susu yang jujur, yang sangat menginspirasi dan sangat mengharukan.
Pada satu malam Khalifah ‘Umar bin Khattab  melakukan ronda, Ketika melewati sebuah gubuk, beliau mendengar percakapan seorang ibu dan anak gadisnya;
Ibunya berkata..Nak sejak Ayahmu meninggal, penghasilan kita sangat menurun. Bahkan dari hari ke hari rasanya semakin berat saja. Aku khawatir kita akan kelaparan,” kata Ibunya. Anak gadisnya terdiam. Tangannya sibuk membereskan kaleng-kaleng yang sudah terisi susu. “Nak,” bisik Ibunya  “Kita campur saja susu itu dengan air, supaya penghasilan kita cepat bertambah banyak.” Anak gadisnya  menolak keinginan Ibunya.  “Ibu, hanya karena kita ingin mendapat keuntungan yang besar, lalu kita berlaku curang pada Pembeli ?”.tidak bu, saya tidak mau melakukan kecurangan itu” kata anaknya. “Tapi, tidak akan ada yang tahu kita mencampur susu dengan air Tengah malam begini,” kata Ibunya tetap memaksa. “Ayolah Nak, mumpung sedang tengah malam. Tak ada yang melihat kita !” “Bu, meskipun tidak ada seorang pun yang melihat dan mengetahui kita mencampur susu dengan air, tapi Aku yakin Allah tetap selalu mengawasi apa yang kita lakukan setiap saat,”
Di luar bilik, Khalifah ‘Umar tersenyum kagum akan kejujuran Anak gadis itu. Keesokan paginya, Khalifah ‘Umar memanggil putranya, ‘Ashim bin ‘Umar. Di ceritakannya tentang Gadis jujur Penjual Susu itu. “Anakku, menikahlah dengan gadis itu. Ayah menyukai kejujurannya,” kata Khalifah ‘Umar..”‘Ashim bin ‘Umar menyetujuinya.
Beberapa hari kemudian ‘Ashim melamar Gadis itu. Betapa terkejut Ibu dan Anak Perempuan itu dengan kedatangan Putra Khalifah. Mereka mengkhawatirkan akan di tangkap karena suatu kesalahan. “Tuan, Saya dan Anak saya tidak pernah melakukan kecurangan dalam menjual susu. Tuan jangan tangkap kami....,” sahut Ibu tua ketakutan. Putra Khalifah hanya tersenyum. Lalu mengutarakan maksud kedatangannya hendak menyunting Anak Gadisnya.
“Bagaimana mungkin? Tuan adalah seorang Putra Khalifah, tidak selayaknya menikahi Gadis miskin seperti Anakku?” tanya Ibu tua itu dengan perasaan ragu. “Khalifah adalah orang yang tidak membedakan manusia. Sebab, hanya ketakwaanlah yang meninggikan derajat seseorang disisi Allah,” kata ‘Ashim sambil tersenyum. Dan Aku kata Khalifah Umar melihat Anakmu adalah seorang Gadis yang sangat jujur. Anak gadis itu saling berpandangan dengan Ibunya. Bagaimana Khalifah tahu ? Bukankah selama ini ia belum pernah mengenal mereka. “Setiap malam aku suka berkeliling memeriksa rakyatku. Malam itu aku mendengar pembicaraan kalian...,” jelas Khalifah ‘Umar. Ibu itu bahagia sekali. Khalifah ‘Umar ternyata sangat bijaksana. Menilai seseorang bukan dari kekayaan tapi dari kejujurannya.
Sesudah ‘Ashim menikah dengan gadis itu, kehidupan mereka sangat bahagia. Keduanya membahagiakan orangtuanya dengan penuh kasih sayang. Beberapa tahun kemudian mereka dikaruniai Anak dan Cucu yang kelak akan menjadi orang besar dan memimpin Bangsa Arab. Yaitu Umar Bin abdul Aziz  yang sering disebut  khalifah yang kelima.


Allahuakbar 3x Walillahilham
Kaum Musliman yang berbahagia.
Kisah di atas menggambarkan ternyata “Kejujuran” berbuah manis. Dari kisah ini dapatlah diambil beberapa pelajaran penting antara lain;

Pertama ; Sebagai seorang pemimpin ; Umar bin Khatab dalam menjalankan roda kepemipinannya tidak mau hanya sekedar mendapat laporan saja. Hampir setiap malam Umar bin Khattab melakukan perjalanan diam-diam. Ditemani salah seorang sahabatnya, ia masuk keluar kampung. Ini ia lakukan untuk mengetahui kehidupan rakyatnya. Sebab beliau paham betul hadits Rasulullah;
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ عَلَيْهِمْ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ 
Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tanggungjawab dan tugasnya. (HR.Bukhari dan muslim)
Ternyata setiap kita adalah pemimpin, mulai dari pemimpin rumah tangga, sampai presiden, dan harus mempertanggungjawabkan atas kepempinan kita. Umar bin Khatab  ingin  rakyatnya  tidak menderita dibawah kepemipinannya  sebab ia takut akan ditanya di pengadilan Allah. Tidak seperti pemimpin-pemimpin zaman sekarang hanya takut pada pengadilan dunia dan tidak takut dengan pengadilan akhirat, padahal di pengadilan akhirat, semua keyakinan, ucapan dan perbuatan ditimbang seadil-adilnya. Yang lebih mengerikan lagi ialah, setiap manusia pada pengadilan akhirat nanti tidak akan bisa menyewa pengacara. Tak satupun di antara keluarga yang dapat membela, bahkan mulut atau lidah kita yang pada pengadilan dunia bisa bicara dan bisa berdusta, pada pengadilan akhirat nanti akan terkunci mati, sebagaimana firman Allah; 
الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Pada hari ini, Kami kunci mulut-mulut mereka, dan yang akan berbicara adalah tangan-tangan mereka, dan yang akan bersaksi adalah kaki-kaki mereka terhadap apa yang mereka kerjakan (dulu di dunia). (QS. yasin: 65)

Kedua:  Rakyatnya sangat menjujung tinggi kejujuran. Umar bin Khatab mengintruksikan bahwa semua pedagang harus jujur tidak boleh mencampur susu dengan air, bila kedapatan curang akan mendapat sangsi berat.
Semestinya kita malu kepada mereka yang hidup serba kekurang tapi masih bisa jujur, sebagai umat Islam, sebagai pemimpin, sebagai rakyat, sebagai pedagang, PNS, Petani dan lainya. Tidak sedikit orang-orang yang diberi amanah  melakukan kecurangan-kecurangan, tidak jujur, tidak adil bahkan melakukan kezholiman-kezholiman. Ngakunya demi rakyat untuk rakyat, ujung-ujungnya menyengsarakan rakyat.
Kita senang dan bangga  upaya yang dilakukan pemerintah agar rakyatnya memiliki sifat jujur. Mulai dari anak TK, SD, SMP DAN SMA pun tidak lepas dari perhatian pemerintah untuk melatih sifat jujur yakni dengan membuat kantin kejujuran  disetiap sekolah , sebagai  media praktik pendidikan kejujuran bagi siswa sekolah. Namun sayangnya hari-hari kita dipertontonkan dengan berbagai macam ketidak jujuran, banyaknya terjadi korupsi di negri ini, satu persatu KPK melakukan OTT (Operasi Tangkap Tangan) terhadap para pejabat yang sebelum dengan semangat, brantas korupsi ganyang nepotisme. Para pedagang dan pebisnis tidak segan dan tidak malu-malu lagi melakukan kecurangan, bahkan sampai (Pesta Demokrasi  Rakyatpun) dicedrahi oleh oknum-oknum yang melakukan kecurangan yang dipertontonkan dan diviralkan dimana-mana. Nauzubillah minzalik.
Padahal Allah  mengharamkan kecurangan, melarang manusia berbuat curang dengan azab dan siksa yang pedih di akhirat;
وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ
“Celakalah orang-orang yang berbuat curang,” (QS Al-Mutaffifin: 1).

Imam Al-Qurtubi, di dalam kitabnya Al-Jami li Ahkamil Quran, beliau menjelaskan “Wail” sebagai:
شِدَّةُ عَذَابٍ فِي الْآخِرَةِ
“Azab yang sangat pedih ketika di akhirat.”

Ramadhan mengajarkan kita untuk berlaku jujur dan tidak curang, maka itu sepantasnya jika kita mencintai negeri ini, agar Allah tidak menghancurkan negeri ini, hendaknya kita menjauhi perbuatan curang dalam segala bidang. Selain itu, jangan pula kita memberi sarana bagi orang lain untuk berbuat curang, dan jangan pula kita menolong orang lain dalam berbuat kecurangan.

Allahuakbar 3x Walillahilham
Kaum Musliman yang berbahagia

Ketiga : sebagai pemimpin Umar bin khatab mendengar rakyatnya dapat menjunjung tinggi kejujuran beliau memberi penghargaan yang luar biasa, dinikahkan dengan anaknya.
Memang sepatutnya kita menghargai orang-orang baik, orang pintar, orang berilmu, yang berprestasi, orang jujur, orang sholeh. Bukan sebaliknya. Sebuah fenomena akhir-akhir ini terjadi. lomba main Domino diberi hadiah UMROH, RUMAH GRATIS, TV dan Golkas, tapi lomba baca Qur’an hadiahnya buku setengah lusin. Pemenang olah raga diberi hadiah milyaran dan diangkat jadi PNS sementara pemenang MTQ diberi tropy dan beberapa ratus ribu saja, bagaimana termotivasi anak-anak untuk agama dan mempelajari al Qur’an. Sungguh aneh bin ajaib hidup di zaman Naw. Rasulullah SAW  bersabda;

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ؛ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا  الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ
قِيلَوَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَالرَّجُلُ التَّافِهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ
“Sungguh, akan datang kepada manusia tahun-tahun yang sangat menipu. Para pendusta pada zaman itu dianggap sebagai orang yang jujur, sementara orang yang jujur dianggap pendusta. Para pengkhianat pada zaman itu dipercaya, sementara orang-orang yang amanah dianggap pengkhianat. Pada zaman itu pula Ruwaibidhah banyak berbicara.” Rasulullah pun ditanya, “Siapa Ruwaibidhah, wahai Rasulullah?”Beliau kemudian menjawab, “Orang dungu yang membicarakan urusan manusia.”
Allahuakbar 3x Walillahilham
Kaum Musliman yang berbahagia
Ketika manusia tidak lagi mengetahui bagaimana cara menumbuhkan dan merawat iman di hati, dan kemudian berbelok kepada cinta dunia dan berebut kelezatan dunia, maka biasanya akan memicu tumbuhnya budaya bohong dan kemudian tumbuh dan membesar di tengah-tengah kehidupan. Dan inilah bibit-bibit yang akan menimbulkan perpecahan di tengah tengah kerukunan umat manusia. Ingatlah, Dusta dan kecurangan yang merajalela di tengah-tengah masyarakat mengakibatkan datangnya hukuman Allah, Sebagaimana firman Allah SWT;
فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُواْ فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ
Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka (Q.S.Al-A’raaf : 91)

Allahuakbar 3x Walillahilham
Kaum Musliman yang berbahagia
Di hari raya Idul Fitri ini, di hari nan bahagia ini, kita berdoa dan berharap semoga kedepan akan kemabali lahir pemimpin yang amanah dan tegas  seperti Umar bin Khatab, dan Rakyat yang jujur seperti gadis yang dikisahkan di atas.
Di hari yang bahagia ini mari kita ishlah, kita perbaiki segala kesalahan, kita hilangkan silang sengketa kita soal dunia, sudah masanya kita kembali merajut masa depan yang lebih baik,  sudah pasti ada dosa dan orang-orang yang tersakiti karena  kita, karena itu mohon ampunlah pada Allah dan minta maaflah kepada sesama.
Dalam kesempatan ini, dihari yang suci ini, semua orang ingin pulang kampung, ingin bersimpuh dihadapan ayah ibu kita masing-masing, kita rindu ingin menggenggam dan mencium tangannya, seraya mengakui akan dosa-dasa kita kepadanya di hari lebaran ini, kita ingin berbagi kebahagiaan atas kesuksesan kita dalam mencari rezki selama ini, karena berkat susah payahnya dalam membesarkan, mendidik dan menyekolahkan kita sehingga kita jadi seperti sekarang ini. Masih terbayang dalam ingatan, ketika kita masih kecil tatkala menyambut lebaran, ayah dan ibu memandikan kita, dipakaikannya baju baru, disisirkannya rambut kita, dikasihnya minyak wangi, lalu diciumnya kita, diajaknya kita takbiran  bersama, sungguh   suasana idul fitri yang sangat menyenangkan yang tak bisa dilupakan.
Namun sayang lebaran ini, orang yang selalu kita cium tangannya, orang yang selalu kita bersimpuh dihadapannya, kini sudah tiada, mereka sudah di alam kubur. suaranya tidak bisa kita dengar lagi, tidak lagi dapat kita genggam tangannya, tidak lagi dapat  kita meminta maaf kepadanya, dengan sangat menyesal ketika kita sudah sukses dan mampu memberikan apa yang dia inginkan, dia sudah tiada. telah dipanggil yang kuasa, mereka telah lebih dulu pulang ke kampung halaman  yang sesungguhnya.  kini semua hanya tinggal kenangan.
Allahuakbar 3x Walillahilham
Kaum Musliman yang berbahagia

Di akahir khutbah ini khatib berpesan;
1)  Belum terlambat dan tidak ada kata terlambat untuk bertobat/memperbaiki diri. Segeralah pada ampunan Allah , dan minta maaflah kepada orang yg sudah kita sakiti, kita curangi, agar kita benar-benar kembali kepada kesucian.
2)  Datanglah kepada ayah ibu kita, ciumlah tangannya, mintalah maaf darinya, agar hidupmu berkah, jika beliau sudah tiada berziarahlah kekuburannya doakan ia agar Allah mengampuni dosanya, merenunglah disana, katakan bahwa kita juga akan sama seperti mereka akan berbaring dibwah tanah seperti mereka.
3)  Berkunjunglah kepada karib kerabat, bukalah pintu hati untuk saling memaafkan atas kehilafan dan kesalahan masing-masing. semoga Allah meridhoi  kita semua. Amin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرالْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.




KHUTBAH KE 2


للهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (4×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَأَصْيْلاً لاَاِلَهَ اِلاّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْوَللهِ اْلحَمْدُ
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ.  اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ  وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.  
  اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا :اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى .وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ. وَقَالَ تَعاَلَى
: اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى   يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
 اللَّهُمَّ صّلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ
 اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ . رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
جَعَلَنَا الله وَ إِيَّاكُمْ مِنَ الْعَآئِدِيْنَ الْفَآئِزِيْنَ الْآمِنِيْنَ  وَاَدْخَلَنَا وَاِيَّاكُمْ فِي عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَاَرْحَمَ وَاَنْتَ خَيْرُالرَّحِمِيْنَ


Rabu, 17 April 2019



Ustadz, mohon bantuan penjelesannya mengenai nisfu syaban. Apakah sebenarnya nisfu syaban itu, dan apakah benar pada malam itu disunatkan melakukan amalan/ibadah tertentu? Bagaimanakah hukumnya meyakini hal ini? Saya akan sangat bersyukur sekali bila ustadz dapat segera menjawab pertanyaan saya ini. Terima kasih.
JAWAB.
Memang benar bahwa secara umum bulan Sya’ban punya kekhususan tersendiri. Keterangan itu kita dapat dari hadits-hadits yang shahih, yang merupakan keterangan valid dari Rasulullah SAW.
1. Amal Hamba Diangkat ke Langit
Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa Sya'ban merupakan bulan di mana amal shalih setiap hamba akan diangkat ke langit.
Salah satu dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW berkut ini:
Dari Usamah bin Zaid berkata, saya bertanya, “Wahai Rasulullah saw, saya tidak melihat engkau puasa di suatu bulan lebih banyak melebihi bulan Sya’ban.” Rasul saw bersabda, "Bulan tersebut banyak dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan, yaitu bulan diangkat amal-amal kepada Rabb alam semesta, maka saya suka amal saya diangkat sedang saya dalam kondisi puasa.” (HR Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Huzaimah)
2. Starting Point Persiapan Ramadhan
Di samping itu bulan sya’ban yang letaknya persis sebelum Ramadhan seolah menjadi starting point untuk menyambut kedatangan bulan Ramadhan. Sehingga isyaratnya adalah kita perlu menyiapkan bekal ibadah untuk menyambut bulan Ramadhan.
Dalam hal mempersiapkan hati atau sisi ruhiyah, Rasulullah saw. mencontohkan kepada umatnya dengan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, sebagaimana yang diriwayatkan ‘Aisyah ra. berkata:
Saya tidak melihat Rasulullah SAW menyempurnakan puasanya, kecuali di bulan Ramadhan. Dan saya tidak melihat dalam satu bulan yang lebih banyak puasanya kecuali pada bulan Sya’ban. (HR Muslim).
Mengkritisi Kekuatan Riwayat Amaliah Nisfu Sya'ban
Sedangkan khusus tentang keutamaan malam pertengahan bulan, atau lebih dikenal dengan istilah nisfu sya’ban, memang ada dalil yang mendasarinya. Namun para ulama berbeda pendapat tentang kekuatan derajat periwayatannya.
Sebagian kalangan menggunakan dalil-dalil lemah itu dengan alasan bahwa bila suatu hadits tidak terlalu parah kelemahannya, masih boleh digunakan landasan ibadah yang bersifat keutamaan. Sebagian lain agak ketat dalam menyeleksi dalil-dalil yang dianggap dhaif, sehingga semuanya dibuang begitu saja.
Di antara dalil-dalil yang dianggap lemah itu misalnya hadits berikut ini:
Sesungguhnya Allah SWT bertajalli (menampakkan diri) pada malam nisfu Sya’ban kepada hamba-hamba-Nya serta mengabulkan doa mreka, kecuali sebagian ahli maksiat.
Memang kalau kita mau jujur dengan hasil penelitian para muhaddtis, riwayat hadits ini tidak mencapai derajat shahih. Ada sebagian kalangan yang menghasankan, tetapi tidak sedikit juga yang secara tegas mendhaifkannya.
Al-Qadhi Abu Bakar Ibnul Arabi mengatakan bahwa tidak ada satu hadits shahih pun mengenai keutamaan malam nisfu sya’ban.
Begitu juga Ibnu Katsir telah mendha’ifkan hadits yang menerangkan tentang bahwa pada malam nisfu sya’ban itu, ajal manusia ditentukan dari bulan pada tahun itu hingga bulan Sya’ban tahun depan.
Sedangkan amaliyah yang dilakukan secara khusus pada malam nisfu Sya’ban itu, sebagaimana yang sering dikerjakan oleh sebagian umat Islam dengan serangkaian ritual, kami tidak mendapatkan satu petunjuk pun yang memiliki dasar yang kuat.
Sebagaimana kita tahu, sebagian dari umat ini banyak yang mengkhususkan malam itu untuk membaca surat Yasin, atau melakukan shalat sunnah dua raka’at dengan niat minta dipanjangkan umur, atau niat agar menjadi kaya dan seterusnya. Memang praktek seperti ini ada di banyak negeri, bukan hanya di Indonesia, tetapi di Mesir, Yaman dan negeri lainnya.
Bahkan mereka pun sering membaca lafaz doa khusus yang -entah bagaimana- telah tersebar di banyak negeri meski sama sekali bukan berasal dari hadits Rasulullah SAW.
Kritik terhadap Lafaz Doa Malam Nisfu Sya’ban
Sering kita dapati bahwa sebagian umat Islam memanjatkan doa khusus pada malam nisfu sya’ban. Di dalam doa itu mereka meminta agar Allah SWT menghapuskan taqdir yang buruk yang telah tertulis di lauhil mahfuz. Seperti doa berikut ini:
Ya Allah, jika engkau mencatat aku di sisi-Mu dalam ummul kitab, sebagai orang yang celaka (sengsara), terhalang, terusir, atau sempit rizkiku, maka hapuskanlah Ya Allah dengan dengan karunia-Mu atas kesengsaraanku, keterhalanganku, keterusiranku dan kesempitan rizkiku. Dan tetapkanlah aku disisimu di dalam ummil kitab sebagai orang yang bahagia, diberi rizki, dan diberi pertolongan kepada kebaikan seluruhnya. Karean sesungguhnya Engkau telah berfirman dan firman-Mu adalah benar, di dalam kitab-Mu yang Engkau turunkan melalui lisan nabi-Mu yang Engkau utus: Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan, dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (lauhil Mahfuz).
Hal itu karena mereka berhujah bahwa Allah SWT dengan kehendak-Nya bisa menghapus apa-apa yang pernah ditulisnya di lauhil mahfuz dan menggantinya dengan taqdir yang lain. Dasarnya adalah firman Allah SWT:
Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan, dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (lauhil Mahfuz). (QS Ar-Ra’d: 39).
Oleh sebagian ulama, lafaz doa seperti itu dianggap bertentangan, karena apa-apa yang sudah tertulis di lauil mahfuz tidak mungkin dihapus. Karena ada sabda Rasulullah SAW:
Dari Ibnu Umar ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Allah SWT menghapuskan apa yang dikehendakinya dan menetapkan apa yang dikehendaki-Nya, kecuali kebahagiaan, kesengsaran dan kematian.”
Ibnu Abbas berkata, ”Allah SWT menghapuskan apa yang dikehendakinya dan menetapkan apa yang dikehendaki-Nya, kecuali penciptaan, perilaku, ajal, rizqi, kebahagiaan dan kesengsaran.”
Selain itu lafaz doa itu seolah-olah menggantungkan kepada Allah SWT apakah ingin mengabulkan atau tidak. Padahal salah satu adab berdoa adalah harus ber’azam atau bertekad kuat untuk dikabulkan. Sedangkan penggunaan lafaz (bila Engkau kehendaki), seolah mengesankan tidak serius dalam meminta. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
Bila kamu meminta kepada Allah SWT maka mantapkanlah permintaanmu itu.


(Di kutip dari Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA)

Kamis, 28 Maret 2019

ISRA MIRAJ  NABI  MUHAMMAD SAW
Oleh. DR.RIDWAN JALIL

Apa itu Isra mi’raj? kalau kita kaji apa  Isra Mi’raj itu. Isro’ secara bahasa berasal dari ‘saro’ bermakna perjalanan dimalam hari. Kalau menurut istilahnya yaitu perjalanan Rasulullah SAW bersama Jibril dari Mekkah ke Baitul Maqdis atau sekarang ini disebut Palestina.
Kalau mi’raj ? Mi’raj menurut bahasa yaitu suatu alat yag dipakai untuk naik. Kalau menurut istilahnya yaitu bermakna tangga khusus yang digunakan oleh Nabi SAW untuk naik dari bumi menuju ke atas langit. dalam konteks zaman sekarang alat naik itu sangat mudah contohnya yaitu lift atau escalator.

Nah, Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan isra bukan naik  pesawat. Tapi Nabi Muhammad SAW naik  Buraaq. Apa itu Buraaq? Lawan kata baik? Ooohhh, itu buruuukkk… Buroq itu hewan putih yang panjang, lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghal/kuda besar. Di dalam buku hadits-hadits, buroq ini digambarkan sebagai kuda putih yang sangat indah.
Dalam Alqur’an Allah mengisahkan cerita Isra dalam surat Al-Isra ayat 1.
z`»ysö6ß üÏ%©!$# 3uŽó r& ¾ÍnÏö7yèÎ/ Wxøs9 šÆÏiB ÏÉfó¡yJø9$# ÏQ#tysø9$# n<Î) ÏÉfó¡yJø9$# $|Áø%F{$# Ï%©!$# $oYø.t»t/ ¼çms9öqym ¼çmtƒÎŽã\Ï9 ô`ÏB !$oYÏG»tƒ#uä 4 ¼çm¯RÎ) uqèd ßìŠÏJ¡¡9$# 玍ÅÁt7ø9$# ÇÊÈ  
Artinya:  Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.
Perjalanan Isra Mi’raj nya banyak hal yang ditemui Rasulullah SAW. Dalam perjalanannya, beliau menemui suatu kaum yang menanam benih dan langsung tumbuh serta panen dihari itu juga. siapa kaum itu? Itu adalah para mujahid fi sabilillah, orang yang mati di jalan Allah. Terus beliau juga mencium bau wangi semerbak. Itu adalah bau wanginya Masyithoh. siapa masyithoh? Masyithoh adalah tukang sisir rambut anak Fir’aun yang beriman kepada Allah hingga ajal menjemputnya. Masyithoh dihukum oleh Fir’aun karena tidak mengakuinya tuhan, dihukumnya dimasukkan kedalam kuali yang berisi minyak panas …
Lalu Rasulullah SAW  bertemu sekelompok kaum yang menghantamkan batu besar ke kepala mereka sendiri sampai hancur dan berulang-ulang.  siapa kaum itu? Mereka adalah manusia yang merasa berat untuk melaksanakan kewajiban shalat. Naaah,, ayoooo siapa yang suka malas dan tidak shalaattt????
Selanjutnya, diperjalanan ada yang memanggil beliau dari kanan dan kiri. Tapi beliau tidak memperdulikannya. Karena apa? Itu adalah panggilan yahudi dan nasrani. Kalau saja Nabi kita menjawab panggilan itu, niscaya umat beliau akan menjadi yahudi dan nasrani. Kemudian ada seorang wanita dengan perhiasan di tangan dan tubuhnya, menghadap dan memanggil Nabi. Tapi Nabi tidak menolehnya. siapa wanita itu? Itu adalah dunia. Kalau saja Nabi memilih wanita itu, maka umat Nabi akan lebih memilih dunia daripada akhirat. Setelah itu beliau sampai di baitul maqdis dan shalat disitu dan ditawari dua bejana yang berisi khamar dan susu. Beliau lantas memilih susu. Kalau saja beliau memilih khamar, bisa-bisa jadi pemabuk semua umat Nabi zaman sekarang ini.
Nah, itu adalah perjalanan isra. Sedangkan mi’rajnya beliau menaiki tangga seperti lip dari batu qubbatusskhro di masjid  aqsho, melawati 7 lapis langit;

1.       Di langit pertama, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu Nabi Adam.
2.       Langit kedua, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu  Yahya dan  Nabi Isa
3.       Langit ketiga, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bertemu Nabi Yusuf.
4.       Langit Keempat, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu Nabi Idris.
5.       Langit kelima, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu Nabi Harun.
6.       Langit keenam, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu Nabi Musa.
7.       Langit ketujuh, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu Nabi Ibrahim.

Terus, Allah mewajibkan Nabi shalat 50 shalat sehari semalam. Nabi pun meminta keringanan atas saran Nabi Musa dan akhirnya jadilah 5 shalat sehari semalam. bersyukurlah kita dengan melaksanakan shalat 5 waktu karena nilainya sama dengan 50 sholat.
Lalu, apa hikmah ini semua?

Yang pertama, terbukti dengan jelas kasih sayang Rasulullah SAW kepada umatnya, ketika beliau meminta diringankan kewajiban shalat. Apa kita sanggup shalat 50 rakaat shalat shubuh, 50 rakaat shalat zhuhur dan seterusnya???? Kalau 50 sholat kita sehari semalam mungkin kita tidak sempat kerja, dan mencari rizki…
Yang  kedua, Tingginya kedudukan shalat wajib dalam islam, karena Allah langsung yang memerintahkan kewajiban ini. Jadi jangan sia-siakan sholat.
Yang ketiga, Surga dan neraka sudah ada, karena Nabi SAW telah melihat
keduanya ketika Mi’raj. Jadi, kalau kita shalat penuh, kalau kita berbuat baik, berbuat baik kepada orang tua dan kerabat kita, berbuat baik kepada guru-guru yang telah mengajarkan kita, berbuat baik kepada tetangga-tetangga kita, niscaya kita akan masuk ke dalam surganya Allah. Amin ya rabbal alamin.
Nah, kalau kita tidak shalat,  berbuat jahat kepada orang lain, mengolok2, menyakiti, berbuat jahat dan membuat sakit hati orangtua, tidak patuh kepada guru-guru yang telah mengajarkan kita, mengganggu tetangga kita, tentu saja akan mendapat azab Allah di neraka nantinya, naudzubillah summa naudzubillah. Jadi  pada peringatan Isra Mi’raj kali ini marilah kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW menerima dan mengimani tentang kebenaran Isra Mi’raj dan tidak menolak berita dan mengubah berita tersebut sesuai dengan kenyataannya. Kewajiban kita, adalah beriman sesuai dengan berita yang datang terhadap seluruh perkara-perkara ghaib yang Allah ta’ala kabarkan kepada kita atau dikabarkan oleh Rasulullah SAW. Juga tidak lupa kita meneladani sifat Rasulullah SAW, dengan cara apa? Dengan taat dan patuh terhadap perintah orangtua kita, guru-guru kita, menyayangi anak, istri, keluarga kita, sayang kepada tetangga-tetangga kita, dan semua orang islam pada umumnya.


Isra Mi'raj Nabi .
Di malam yang sunyi...
Seorang hamba mengadu kepada Illahi...
karena sedih atas apa yang terjadi
Sedih saat di tinggal orang yang di sayangi...

Memohon kesabaran ketabahan...
Bagaimanapun hidup harus berjalan...
Demi perubahan , demi kemajuan
Dan demi kemanusiaan ....
Mungkin itu yang membuatnya bertahan
Di tengah tekanan dan cobaan
Selayang pandang Perjalanan Nabi tersayang
Nabi Akhir Zaman , Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wassallam .

Isra Mi'raj nabi perjalan malam sunyi
Pejalanan Nabi menghadap Illahi
Untuk menerima perintah Suci
Sholat Lima Waktu Untuk Di jalani .

Mekah Madinah Jadi Saksi Bisu
Saksi kebesaran sang maha tahu
Saksi kemukjizatan nabi saat itu
Manusia yang di angkat ke langit ke tuju .

Kita kita tinggal menjalankan perintahnya
Sholat lima waktulah wujudnya
Perintah langsung tanpa perantara
Itulah  Tiang agama .
Subuh, Dzuhur, Ashar, Magrib Isya Namanya .
Semoga kita bisa menjalankanya hingga badan tak bernyawa .



WASSALAM

MAKNA LEBARAN DITINJAU DARI ASPEK PENDIDIKAN

MAKNA LEBARAN DITINJAU DARI ASPEK  PENDIDIKAN Oleh. Dr.H.M.Ridwan Jalil.M.Pd.I Setelah berpuasa satu bulan lamanya, Berzakat fitrah menurut ...