Senin, 20 April 2020

KHUTBAH JUMAT 1 RAMADHAN 1441 H





KHUTBAH  JUMAT
MARHABAN  YA  RAMADHAN
( Puasa di Musim Corona)
Oleh: Dr.M.Ridwan Jalil, M.Pd.I


اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ رَمَضَانَ شَهْرًا مُبَارَكًا، وَفَرَضَ عَلَيْنَا الصِّيَامَ لِأَجْلِ التَّقْوٰى, أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وعَلَى آلِه وأصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. وَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ .يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

KAUM  MISLIMIN JAMAAH SHOLAT JUMAT YG BERBAHAGIA
Marhaban… Marhaban… Marhaban Ya Ramadhan…! seiring berjalannya waktu, detik demi detik, hari demi hari, bulan demi bulan hingga tak terasa bulan yang ditunggu-tunggupun telah tiba,
Jika semua HARTA adalah RACUN, maka ZAKAT lah penawarnya.
Jika seluruh UMUR adalah DOSA, maka TAUBAT lah obatnya.
Jika seluruh BULAN adalah NODA, maka RAMADHAN lah pemutihnya.
Setitik tinta jadi noda.
Setitik salah jadi dosa.
Bulan penuh berkah sudah tiba.
Mari tekun ibadah di bulan puasa.
Sambutlah dengan senyuman indah
Meskipun di musim corona, yang membuat kita kecewa dan merana….betapa tidak di tahun yang lalu tatkala  menyambut  bulan  penuh barokah ini,  rame-rame membentangkan sepanduk/balehu disetiap persimpangan   dengan ucapan  “Marhaban Ya Ramadhan; selamat datang bulan yang penuh dengan barakah”…namun kini betapa sedihnya kita melihat disetiap media elektro TV,HP, FB, WA, selalu muncul kata himbawan dan ancaman “BEKERJA DAN BERIBADAH DARI RUMAH SAJA”  semua kalangan mulai dari pemerintah, ormas dan pengurus masjid  membentang sepanduk di setiap persimpangan “MARI KITA CEGAH  COVID 19, LOCK DOWN, PSBB, CUCI TANGAN DAN PAKAI MASKER.   Itulah kata-kata yang populer menyambut ramdhan kali ini.

KAUM MUSLIMIN  YG BERBAHAGIA
Bulan Ramadan adalah bulan diwajibkannya  bagi seorang mukmin yang mukallaf. Menjalan ibadah puasa selama satu bulan.sebagaimana firman Allah SWT;

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (QS. Al-Baqarah: 183)
Nabi Muhammad SAW   bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِه

“Barangsiapa yang puasa karena iman dan berharap pahala dan ridha Allah, maka akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu”.

Namun situasi bulan Ramadhan pada tahun ini mungkin menyisakan beberapa pertanyaan terkait puasa di musim wabah Corona, misalnya tentang bolehnya meninggalkan puasa bagi masyarakat untuk menjaga kondisi kesehatan mereka, baik kategori ODPPDP ataupun positif suspect Covid-19 atau belum terindikasi apa-apa.

KAUM MUSLIMIN  YG BERBAHAGIA
Secara umum sejak dahulu para ulama telah sepakat mengenai bolehnya orang sakit untuk tidak berpuasa dan kelak nanti ketika sembuh, dia diharuskan mengqodho’ puasanya (menggantinya di hari atau lain). Dalil mengenai hal ini adalah firman Allah Ta’ala:
وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
“Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqarah: 185).
Imam Ibn Qudamah dalam kitab Al-Mughni   ha.403 dan juga Imam Al-Nawawi dalam kitab al-Majmu’  hal.261  mejelaskan bahwa yang dimaksud dengan kondisi sakit yang membolehkan seseorang tidak berpuasa adalah jika:
1.    Penyakit akan meningkat atau semakin parah karena puasa
2.    Pemulihan kesehatan tertunda karena berpuasa
3.    Pasien mengalami kesulitan dalam berpuasa meskipun tidak ada peningkatan penyakit dan tidak ada penundaan dalam pemulihan
4.    Sangat khawatir akan menjadi sakit karena berpuasa.
Sedangkan Syeikh Nawawi Banten dalam kitab Nihayatuz Zain  hal.187 menjelaskan bahwa ulama membagi tiga keadaan orang sakit: Pertama, kalau misalnya penyakitnya diprediksi akan menjadi kritis, maka penderita makruh untuk berpuasa dan diperbolehkan tidak berpuasa. Kedua, jika penyakit kritis itu benar-benar terjadi, atau kuat diduga kritis, atau kondisi kritisnya dapat menyebabkannya kehilangan nyawa, maka penderita haram berpuasa. Ia wajib membatalkan puasanya. Ketiga, kalau sakit ringan yang sekiranya tidak sampai keadaan kritis, penderita haram membatalkan puasanya dan tentu wajib berpuasa sejauh ia tidak khawatir penyakitnya bertambah parah.
Dari urain penjelasan ulama di atas dapat disimpulkan bahwa hukum berpuasa bagi umat Islam di musim Corona ini ada tiga kategori:
Pertama, pasian suspect Corona-19 atau PDP yang memerlukan obat dan penanganan intensif di bawah pengawasan dokter dan dikhawatirkan beresiko tinggi jika dia berpuasa, bahkan akan mengancam keselamatan nyawanya, maka penderita suspect demikian ini wajib berobat dan diharamkan berpuasa.
Kedua, pasien dalam pengawasan atau orang dalam pengawasan petugas kesehatan berwenang yang mengalami kesulitan dalam berpuasa dikarenakan harus menjaga kesehatan tubuhnya dengan olahraga dan minum air atau vitamin secara teratur demi menjaga kekebalan tubuhnya untuk mencegah virus Corona maka dia diperbolehkan tidak berpuasa. Hukum ini juga berlaku bagi staf paramedis dari kalangan dokter dan tenaga perawat yang bertugas di garis depan menangani pasien Corona. Mereka diperbolehkan untuk tidak berpuasa jika mereka terancam keselamatan jiwanya oleh karena berpuasa.
Ketiga, bagi masyarakat muslim umumnya yang sehat jasmani-rohani dan tidak dalam kondisi sakit, maka mereka tetap wajib berpuasa Ramadlan secara sempurna, karena belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa ada hubungan antara puasa dan ancaman infeksi dengan virus Corona baru Covid 19.
KAUM MUSLIMIN  YG BERBAHAGIA
Di akhir khutbah ini kami mengajak  kaum muslimin muslimat, marilah kita isi bulan Ramdhan ini semaksimal mungkin, meskipun dalam kondisi  yang menghawatirkan  karena wabah virus corona, kita tetap maksimal dalam ibadah, siang kita berpuasa malam kita isi dengan taraweh dan tadarus al-quran meskipun di rumah masing-masing. Kita berdoa dan berharap semoga  covid 19 ini akan segra  hilang seiring dengan datangnya  Ramadhan mulia ini. Amin.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِوَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِوَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَالسَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ.  فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْم
                      


Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
أَمَّا بَعْدُفَيَآ أَيـُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ عَلَى الدِّيْنِ الْقَوِيْمِ. . وَقَالَ تَعاَلَى : اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى   يآ اَيُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
 اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ . رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ


Kamis, 16 April 2020

SEPULUH HADITS PALSU SEPUTAR RAMADHAN YANG VIRAL DI MASYARAKAT








SEPULUH HADITS  PALSU  SEPUTAR RAMADHAN YANG VIRAL  DI  MASYARAKAT MENURUT
Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA



 1. Ramadhan di Awali Rahmat


 أَوَّلُ شَهْرِ رَمَضَانَ رَحْمَةٌ، وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ.

“Permulaan bulan Ramadhan adalah Rahmat, pertengahannya maghfirah, dan penghujungnya adalah pembebasan dari neraka.”

 2. Tidak Makan Kecuali Lapar


 Alkisah, sejumlah tamu yang mendatangi Nabi Saw, mereka merasa kagum dengan kesehatan Nabi Saw dan para sahabat. Mereka kemudian bertanya kepada Nabi, apa resepya sehingga kondisi kesehatan Nabi dan para sahabat sangat prima. Nabi Saw, menjawab:

نَحْنُ قَوْمٌ لَا نَأْكُلُ حَتَّى نَجُوْعَ وَإِذَا أَكَلْنَا لَا نَشْبَعُ

“Kami adalah orang-orang yang tidak makan sehingga kami lapar, dan apabila kami makan, kami tidak sampai kenyang.”

 3. Ramadhan Setahun Penuh


 عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُماَ أَنَّهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَوْ تَعْلَمُ أُمَّتِيْ مَا فِيْ رَمَضَانَ لَتَمَنَّوْا أَنْ تَكُوْنَ السُّنَّةُ كُلُّهَا رَمَضَانَ.

“Dari Ibn ‘Abbas ra, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah Saw, bersabda: Seandainya umatku mengetahui pahala ibadah bulan Ramadhan, niscaya mereka menginginkan agar satu tahun penuh menjadi Ramadhan.”

 4. Surga Berhias

 عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ الْجَنَّةَ لتُزَخْرَفُ لِرَمَضَانَ مِنْ رَأْسِ اْلحَوْلِ إِلَى الْحَوْلِ الْمُقْبِلِ. فَإِذَا كَانَ أَوَّلُ شَهْرٍ مِنْ رَمَضَانَ هَبَّتْ رِيْحٌ مِنْ تَحْتَ الْعَرْشِ فشَقَّقَتْ وَرَقُ الْجَنَّةِ عَنِ الْحُوْرِ الْعَيْنِ. فَقُلْنَ يَا رَبِّ اْجعَلْ لَنَا مِنْ عِبَادَكَ أَزْوَاجًا تُقِرُّ أَعْيُنُهُمْ بِنَا وُتِقرُّ أَعْيُنُنَا بِهِمْ.

“Dari Ibn ‘Umar, bahwa surga itu dihiasi untuk bulan Ramadhan sejak awal tahun sampai tahun berikutnya. Apabila hari pertama Ramadhan datang, angin di bawah Arsy berhembus, sehingga daun-daun surga bergerak-gerak mengenai para bidadari. Mereka kemudian berkata, “Wahai Tuhan kami, jadikanlah dari hamba-hambaMu sebagai suami kami di mana kami dapat menyejukkan pandangan mata mereka dan mereka dapat menyejukkan pandangan mata kami.”

5. Tidurnya Orang Berpuasa adalah Ibadah

 نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ وَصَمْتُهُ تَسْبِيحٌ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ، وَذَنْبُهُ مَغْفُورٌ.

“Tidurnya orang berpuasa adalah Ibadah, diamnya adalah tasbih, amalnya dilipatgandakan (pahalanya), doanya dikabulkan, dan dosanya diampuni.”

6. Ramadhan Tergantung Zakat Fitrah

 شَهْرُ رَمَضَانَ مُعَلَّقٌ بَيْنَ السَّمَآءِ وَالْأَرْضِ وَلَا يُرْفَعُ إِلَى اللهِ إِلَّا بِزَكَاةِ اْلفِطْرِ.

“Ibadah bulan Ramadhan itu tergantung antara langit dan bumi, dan tidak akan diangkat kepada Allah kecuali dengan mengeluarkan zakat fitrah.”

7. Shalat Tarawih Delapan dan Dua Puluh Rakaat

Selama ini, tata cara pelaksanaan shalat tarawih yang kita kenal ada dua versi. Pertama, shalat tarawih sebanyak dua puluh rakaat. Kedua, shalat tarawih sebanyak delapan rakaat.

§   Shalat Tarawih dua puluh Rakaat

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُما كَانَ النَّبِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي رَمَضَانَ عِشْرِينَ رَكْعَةً وَالْوِتْرَ.

Dari Ibn ‘Abbas, katanya, “Nabi Saw shalat pada bulan Ramadhan dua puluh rakaat dan witir.”

§    Shalat Tarawih Delapan Rakaat

 جَابِرُ بْنُ عَبْدِ الله، قَالَ: جَاءَ أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ إِلَى رَسُولِ الله صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم، فَقَالَ: يَا رَسُولَ الله، إِنَّهُ كَانَ مِنِي اللَّيْلَةَ شَيْءٌ -يَعْنِي فِي رَمَضَانَ- قَالَ: وَمَا ذَاكَ يَا أُبَيُّ؟ قَالَ: نِسْوَةٌ فِي دَارِي قُلْنَ: إِنَّا لاَ نَقْرَأُ الْقُرْآنَ، فَنُصَلِّي بِصَلاَتِكَ، فَصَلَّيْتُ بِهِنَّ ثَمَانَ رَكَعَاتٍ، ثُمَّ أَوْتَرْتُ قَالَ: فَكَانَ شِبْهُ الرِّضَى، وَلَمْ يَقُلْ شَيْئًا.

“Dari Jabir bin ‘Abdullah, ia berkata, “Ubay bin Ka’ab datang menghadap Nabi Saw lalu berkata, “Wahai Rasulullah, tadi malam ada sesuatu yang saya lakukan, maksudnya, pada bulan Ramadhan.” Nabi Saw kemudian bertanya, “apakah itu, wahai Ubay?” Ubay menjawab, “Orang-orang wanita di rumah saya mengatakan mereka tidak dapat membaca al-Qur’an. Mereka meminta saya untuk mengi shalat mereka. maka saya shalat bersama mereka delapan rakaat, kemudian saya shalat witir.” Jabir kemudian berkata, “Maka hal itu merupakan ridha Nabi Saw, karena beliau tidak berkata apa-apa.”


 8. Bergembira dengan Datangnya Bulan Ramadhan

 مَنْ فَرِحَ بِدُخُوْلِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلَى النِّيْرَانِ.

“Siapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka.”


 9. Lima Perbuatan Pembatal Puasa

 خَمْسُ خِصَالٍ يُفَطِّرْنَ الصَّائِمَ وَيَنْقُضُ الْوُضُوْءَ: اَلْكَذِبُ وَالْغِيْبَةُ وَالنَّمِيْمَةُ وَالنَّظْرُ بِشَهْوَةٍ وَالْيَمِيْنُ الْكَاذِبَةُ.

“Lima hal yang membatalkan orang berpuasa, dan membatalkan wudhu. Berbohong, mengumpat, mengadu domba, melihat lawan jenis dengan syahwat, dan sumpah palsu.”

10.  Keutaman Shalat Tarawih

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: سُئِلَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالَّسلَامُ عَنْ فَضَائِلِ الترَاوِيْح فِيْ شَهْرِ رَمَضَانَ فَقَالَ: يُخْرَجُ الْمُؤْمِنُ مِنْ ذَنْبِهِ فِيْ أَوَّلِ لَيْلَةٍ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ. فِيْ الْلَيْلَةِ الثَّانِيَةِ: يُغْفَرُ لَهُ وَلِأَبَوَيْهِ وَإِنْ كَانَا مُؤْمِنَيْنِ. فِي الْلَيْلَةِ الثَّالِثَةِ: يُنَادِيْ مَلَكٌ مِنْ تَحْتَ الْعَرْشِ اسْتَاتَنِي اْلعَمَلُ غَفَرَ اللهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ...

“Dari Ali bin Abi Thalib ra, ia berkata: “Nabi Saw pernah ditanya tentang keutamaan shalat tarawih di bulan Ramadhan, Nabi menjawab (bersabda): Malam pertama, dosa seorang mukmin dihapus, ia seperti anak yang baru dilahirkan dari rahim ibunya. Malam kedua, dosanya diampuni, begitu juga dosa kedua orang tuanya jika beriman. Malam ketiga, malaikat berseru di bawah Arsy: beramallah, tentu Allah akan mengampuni dosamu yang telah berlalu. Dan seterusnya…”     

Dikutip dari buku “Hadis-Hadis Bermasalah dan Hadis-Hadis Palsu Seputar Ramadhan” Karya Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA.


Kamis, 12 Maret 2020









KHUTBAH  JUM’AT
UMAT ISLAM MENYIKAPI VIRUS CORONA
Oleh : Dr. M.Ridwan Jalil, S.Ag, M.Pd.I
( Sekretaris DPW Badan Koordinasi Muballigh Indonesia Prov.Jambi)

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. وَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ : وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا . إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

KAUM MUSLIMIN JAMA’AH JUMAT YANG DIRAHMATI ALLAH.

Di berbagai media saat ini, Keresahan dan kekhawatiran yang ditimbulkan oleh virus Corona benar-benar ril (nyata) dan semakin menjadi-jadi. Hanya saja semua fokus pada apa dan bagaimana menghadapi penyebaran virus tersebut.
Menyikapi hal tersebut apa yang harus kita lakukan sebagai umat yang beriman?....Menjawab persoalan ini mari kita perhatikan pesan Nabi kita Muhammad SAW;
Apa pesan Nabi kita?;
الطَّاعُونُ آيَةُ الرِّجْزِ ابْتَلَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ نَاسًا مِنْ عِبَادِهِ فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ فَلَا تَدْخُلُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَفِرُّوا مِنْهُ "Tha'un (penyakit menular/wabah) adalah suatu peringatan dari Allah Ta'ala untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya. (HR.Muslim
Dari pesan Nabi ini ada dua  hal yang kita ambil; Pertama; Kalau terdengar berita di suatu tempat/negeri terkena wabah penyakit, maka jangan pergi kesana. Kedua; Kalau di tempat tinggal kita terkena wabah, maka jangan  keluar.
Dua pesan ini yang harus kita lakukan, keduanya sudah terkandung tiga disiplin ilmu. ilmu Tauhid, ilmu Fiqih dan ilmu Tasawuf.(Secara aqidah lari dari wabah bukan lari dari takdir Allah, secara Fiqih wajib hukumnya menta’ati perintah Allah dan Rasulnya untuk tidak masuk ke tempat penyakit yang sedang mewabah, secara Akhlak Tasawuf meskipun dalam keadaan terkena wabah, kita harus beretika tidak boleh menularkannya kepada orang lain (harus mengisolasi diri)..itulah dalamnya dan indahnya pesan Nabi Kita.
Lalu bagaimana praktek pesan Nabi tersebut di masa sahabat?
Suatu ketika Khalifah Umar bin Khattab hendak berkunjung ke wilayah Syam (kini Suriah) yang baru saja jatuh ke tangan umat Islam. Namun ketika sang khalifah dan rombongan tiba di daerah Syargh, ada kabar kalau masyarakat Syam tengah menderita penyakit kolera. Mendengar informasi tersebut, Khalifah Umar bin Khattab menggelar musyawarah.
Atas masukan  dari para senior Quraisy Khalifah Umar mengumumkan untuk membatalkan agenda kunjungannya ke Syam. Ia dan rombongannya  kembali ke Madinah. 

KAUM MUSLIMIN YANG BERBAHAGIA
Dalam konteks ini sebagai umat yang beriman sebaiknya kita tidak perlu mencari kambing hitam dan saling menyalahkan, koreksi atas tindakan pelaku penyimpangan dari sunnatullah yes, tapi alangkah bijaknya seandainya kita juga bisa mengambil 'itibar atau 'ibrah (pelajaran-pelajaran) dari kasus ini. Karena sejatinya, bagi orang-orang beriman, tak satu peristiwa yang terjadi dalam hidup ini kecuali memiliki hikmah-hikmah sebagaimana firman Allah;
رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ
"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.(QS. Ali Imran:191)
Salah satu hikmah (pelajaran) penting dari kasus Corona ini adalah bahwa kasus ini mengingatkan sekaligus menyingkap beberapa fakta tentang manusia itu sendiri. Berikut beberapa fakta tentang manusia yang terungkap oleh kasus Corona:
1)  Manusia itu, siapapun dan bagaimanapun dunianya, sangat terbatas dalam segala hal.
Corona justru barangkali berwujud lemah. Tapi manusia yang kerap merasa hebat nampak tidak mampu menghadapinya. China dan Amerika saat ini barangkali dua negara yang memiliki kekuatan terbesar dunia, ternyata juga ketar-ketir. Al-Qur'an mengingatkan itu: "dan adalah manusia itu lemah (terbatas)".
2)  Ilmu dan pengetahuan manusia tentang hidup dan segala yang terkait dengan hidup sangat terbatas dan sedikit.
Kalau sekiranya manusia hebat dalam keilmuan, tentu sebelum hal ini terjadi sudah dipersiapkan perangkat untuk menangkalnya. Buktinya setelah sekian nyawa telah melayang, obatnya juga belum ditemukan. Al-Qur'an mengingatkan: "Dan tidaklah kamu diberikan ilmu kecuali sedikit".

3)  Manusia itu memiliki tabiat yang cenderung 'panik'.
Panik adalah sebuah sikap yang karena kekhawatiran berlebihan bereaksi tanpa pertimbangan sehat. Reaksi tanpa pertimbangan ini membawa kepada ragam akibat yang tidak sehat, bahkan destruktif. Panik inilah yang menjadikan banyak manusia yang bereaksi di luar batas. Memborong barang-barang kebutuhan dari pertokohan sehingga ada pihak lain yang dirugikan. Al-Qur'an mengingatkan: "Dan adalah manusia itu 'ajuula (tergesa-tergesa)".
4)  Manusia itu sangat rapuh dan labil dalam segala hal.
Dengan meluasnya berita tentang Corona di media massa, bahkan siang malam tiada henti, menyebabkan banyak orang yang kemudian mengalami goncangan jiwa. Rumah-rumah sakit membludak, bukan karena Corona. Tapi lebih karena ketakutan berlebihan. Al-Qur'an menyebutkan dua penyakit berbahaya manusia: "ketakutan dan kesedihan (khauf wa hazan)."
5)  Manusia itu memiliki tendensi egoistik yang tinggi.
Tendensi ini kemudian melahirkan berbagai manipulasi dalam hidup. Hal ini terlihat betapa sebagian menggunakan kesempatan "musibah" ini untuk meraup keuntungan pribadi dengan memanipulasi harga barang-barang keperluan dasar untuk menghadapi Corona. Masker misalnya tiba-tiba habis di pasaran dan hanya ditemukan dengan harga yang ratusan kali lipat. Al-Qur'an mengingatkan: "Dan kamu mencintai harta dengan cinta yang berlebihan".
6)  Manusia itu perlu sadar zaman.
Dunia kita adalah dunia global yang ditandai oleh apa yang disebut ketergantungan. Corona awalnya terjadi di China. Kini hampir semua bagian dunia ikut merasakan akibatnya. Bahkan Amerika tersadarkan kebutuhan obat-obatannya terancam krisis Karena selama ini 80% diproduksi oleh China. Al-Qur'an menyebutkan: "Sungguh Kami (Tuhan) telah jadikan kamu dari seorang laki dan seorang wanita. Lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal".

KAUM MUSLIMIN YANG BERBAHAGIA
Semoga Corona tidak saja hadir membawa seribu satu kekhawatiran dan ketakutan. Tapi juga hadir untuk mengingatkan manusia dalam banyak hal. Semoga ujian Corona ini menyadarkan manusia untuk belajar rendah hati, bahkan merendahkan diri di hadapan yang Maha Tinggi lagi Maha Kuasa. 
Ingatlah, apapun yang kita hadapi saat ini, semua akan berlalu. Jadilah orang yang tetap sejuk di tempat panas. Tetap manis di tempat yang begitu pahit. Tetap merasa kecil meskipun telah menjadi besar. Tetap tenang di tengah badai yang paling hebat. Apabila kita ridho pada sesuatu yang mengecewakan hati, Maka percayalah Allah akan menggantikan kekecewaan itu dengan sesuatu yang tak disangka. Hadiah tak semestinya berbungkus dengan bahagia. Kadang ia berbungkus dengan ujian, tetapi di dalamnya ada hikmah yang luar biasa.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِوَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِوَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَالسَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ.  فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْم





Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
أَمَّا بَعْدُفَيَآ أَيـُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ عَلَى الدِّيْنِ الْقَوِيْمِ. . وَقَالَ تَعاَلَى : اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى   يآ اَيُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
 اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ . رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ







MAKNA LEBARAN DITINJAU DARI ASPEK PENDIDIKAN

MAKNA LEBARAN DITINJAU DARI ASPEK  PENDIDIKAN Oleh. Dr.H.M.Ridwan Jalil.M.Pd.I Setelah berpuasa satu bulan lamanya, Berzakat fitrah menurut ...